RSS

Bulan Puasa Listrik Masih Padam !!!! DAMN!!! PLN DAMN!!

20 Agu

Bulan Puasa Listrik Masih Padam

Rabu, 20 Agustus 2008

Padang, Singgalang
Pemadaman listrik bergilir di Sumbar dipastikan berlanjut pada bulan Ramadan. PLN mengaku, hingga akhir September sebagian besar kebutuhan energi listrik Sumbar masih dipasok dari Sumatra Selatan, melalui transmisi interkoneksi Sumatra. Namun skenario pemadaman listrik secara bergilir ini, PLN belum bisa menentukan jumlah waktu atau durasi pemadaman. Untuk menghidari pemadaman bergilir sulit, seiring masih bermasalahnya pembangkit-pembangkit besar di Sumbar. Masalah itu meliputi pengaruh persediaan energi pembangkit, baik dari persediaan air pada waduk maupun ketersediaan batubara untuk jangka panjang dan perawatan rutin pembangkit.

Untuk mengurangi pemadaman bergilir saat bulan puasa, PLN akan melakukan pemancingan curah hujan bagi daerah yang diperkirakan memiliki potensi hujan lebat. Memancing curah hujan itu dilakukan dalam bentuk modifikasi cuaca di sekitar pembangkit listrik yang menggunakan sumber energi air.

Selain memancing meningkatnya curah hujan di sekitar waduk PLTA, PLN berupaya pula memaksimalkan operasi pembangkit yang ada. Kemampuan memproduksi arus yang terbatas juga menjadi kendala, seperti akan dioperasikannya PLTG Pauh Limo berkapsitas 17 Megawatt (Mw)

Manager Operasi PLN Penyalur dan Pusat Pengatur Beban (P3B) Sumatra, Sudibyo, Selasa (19/8) menyebutkan, krisis listrik yang terjadi di Sumbar dipengaruhi persediaan air waduk PLTA yang terus menipis seiring perubahan cuaca kian tak menentu. Kemudian dipengaruhi pula kemampuan serapan air di hulu waduk atau danau yang disebabkan faktor lingkungan.

Semua pembangkit listrik yang berada di Sumbar belum bisa memenuhi kebutuhan listrik, sesuai beban maksimum di masing-masing pembangkit. Bila dipaksakan beroperasi seluruh turbin PLTA sesuai beban maksimum, bisa saja waduk atau danau dihadapkan dengan kekeringan,” jelas Sudibyo yang dihubungi via telepon.

Sudibyo hingga tadi malam masih berada di Palembang untuk merumuskan pengurangan skenario pemadaman dengan sektor pembangkitan Sumbagsel.

Krisis
Sebelumnya pihak PLN menyebutkan, hingga pertengahan tahun depan (2009) Sumbar masih dihadapkan dengan krisis energi listrik. Pada saat ini saja sedikitnya 42 dari 110 pembangkit listrik yang tersambung dalam sistem interkoneksi Sumatra dalam taahap perawatan berkala.

Diperkirakan hingga akhir Maret 2009 berbagai daerah di Sumatra dihadapkan pada pergantian musim kering dan hujan. Pada itu pula chek inspection pada sejumlah PLTA. Hal serupa dilakukan pula pembangkit non hydro di luar musim hujan.

Pada saat PLTA tidak beroperasi, PLTU dan PLTG dioptimalkan sesuai kapasitas produksi energi pembangkitan,” kata Sudibyo.

Pada variasi musim ini, kata Sudibyo, PLN berusaha melakukan upaya pengurangan skenario pemadaman listrik secara bergilir. Caranya dilakukan perawatan secara bertahap pada masing-masing unit pembangkitan.

Selain gangguan pembangkitan, PLN dihadapkan pula pada kondisi debit air di waduk seluruh PLTA di Sumatra yang kurang bahkan kritis. Dengan kurangnya debit air dari hulu ke waduk PLTA dapat dipastikan akan berpengaruh pada cadangan air di waduk pembangkitan. Untuk menjaga kelansungan pasokan energi listrik ke pelanggan, dilakukan efesisensi penggunaan debit air danau untuk mengoperasikan turbin pembangkitan.

Gangguan pembangkit listrik tidak dapat pula dihindari di PLTU Ombilin yang dihadapkan pada masalah kualitas bata bara sebagai bahan bakar pokok dan mampu beroperasi satu unit pembangkitan. Kualitas batu bara tidak sesuai dengan spefikasi kebutuhan operasional pembangkitan, sesuatu yang sepertinya ditutup-tutupi sejak lama.

Dari sisi daya, katanya, pembangkit listrik di Sumbar dan Riau mencukupi. Namun PLN dihadang beragam masalah yang harus diatasi demi menjaga stabilitas pasokan energi listrik tersebut.

Hal itu dapat dilihat dari kapasitas produksi PLTA Singkarak mencapai 175 MW, tapi tidak bisa mencapai beban maksimal. Keterbatasan itu dipengaruhi keterbatasan debit air Singkarak. Masalah serupa juga terjadi pada PLTA Koto Panjang, Maninjau dan sejumlah PLTA lainnya.

Pada saat beban puncak (18.00-23.00 WIB) PLTA Singkarak hanya mampu memasok kebutuhan energi listrik ke pelanggan tak lebih 50 MW. Begitu pula PLTU Ombilin unit satu hanya mampu memasok listrik 50 MW dengan kapasitas pembangkitan 100 MW,” ulasnya.

Secara keseluruhan pembangkit listrik di Sumbar saat ini hanya mampu memenuhi kebutuhan sekitar 200 MW pada waktu beban puncak. Sementara kebutuhan energi listrik pada beban puncak di Sumbar plus Riau mencapai 700 MW. Itu artinya, tekor 500 MW

Untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah ini, Sumbar mendapat pasokan listrik melalui transmisi interkoneksi Sumatra. Listrik dipasok dari Sumatra Selatan yang masih dalam kondisi surplus energi.

Bila tidak mendapatkan pasokan listrik dari Selatan, tidak tertutup kemungkinan sebagian Sumbar dan Riau akan gelap gulita. Dengan demikian sistem interkoneksi ini sangat menguntungkan bagi daerah yang dihadapkan dalam kondisi defisit energi,” ujarnya.

Sebelum 2004, Sumbar diasumsikan sebagai daerah lumbung energi listrik seiring banyak jumlah pembangkitan berkasipatas besar. Namun asumsi itu meleset yang dipengeruhi berkurangnya debit waduk atau danau (elevasi) sumber energi pembangkitan. Kemudian pasokan batu bara yang sangat terbatas di PLTU Ombilin juga menjadi masalah seiring tidak jelasnya harga solar untuk mengoperasikan PLTD.

Sementara kondisi pembangkitan di Selatan menggunakan sumber energi gas terus bertambah. Sebab pembangunan PLTG membutuhkan investasi lebih murah dibandingkan PLTA dan PLTU. Hal itu didukung pula sumber energi gas yang berlimpah.

Untuk memenuhi kebutuhan daerah-daerah yang masih dihadapkan krisis energi listrik, PLN membangun transmisi sistem interkoneksi Sumatra. Hal ini dapat menjawab masalah krisis listrik yang terjadi di berbagai daerah di Sumatra,” tambahnya.

Sebelumnya diberitakan, terjadinya ganngguan listrik di Selatan dipastikan Sumbar mendapat jatah pemadaman secara besar-besaran. Hal itu disebabkan sebagian besar kebutuhan energi listrik di Sumbar dipasok dari Selatan melalui sistem interkoneksi Sumatra.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Agustus 2008 in Berita

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: